KOMUNIKASI
ORGANISASI
A. Pengertian Komunikasi
Organisasi.
Istilah
organisasi berasal dari bahasa Latin organizare, yang secara
harafiah berarti paduan dari bagian-bagian yang satu sama lainnya saling
bergantung. Di antara para ahli ada yang menyebut paduan itu sistem, ada juga
yang menamakannya sarana.
Everet M. Rogers dalam
bukunya Communication in Organization, mendefinisikan organisasi
sebagai suatu sistem yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk mencapai
tujuan bersama, melalui jenjang kepangkatan, dan pembagian tugas. Robert
Bonnington dalam buku Modern Business: A Systems Approach,
mendefinisikan organisasi sebagai sarana dimana manajemen mengoordinasikan
sumber bahan dan sumber daya manusia melalui pola struktur formal dari
tugas-tugas dan wewenang.
Korelasi
antara ilmu komunikasi dengan organisasi terletak pada peninjauannya yang
terfokus kepada manusia-manusia yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi
itu. Ilmu komunikasi mempertanyakan bentuk komunikasi apa yang berlangsung
dalam organisasi, metode dan teknik apa yang dipergunakan, media apa yang
dipakai, bagaimana prosesnya, faktor-faktor apa yang menjadi penghambat, dan
sebagainya. Jawaban-jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah untuk
bahan telaah untuk selanjutnya menyajikan suatu konsepsi komunikasi bagi suatu
organisasi tertentu berdasarkan jenis organisasi, sifat organisasi, dan lingkup
organisasi dengan memperhitungkan situasi tertentu pada saat komunikasi
dilancarkan.
Komunikasi
organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam
kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005). Komunikasi
formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan
sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam
organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam
organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat
resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara
sosial. Orientasinya
bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.
Conrad
(dalam Tubbs dan Moss, 2005) mengidentifikasikan tiga komunikasi organisasi
sebagai berikut: fungsi perintah; fungsi relasional; fungsi manajemen ambigu.
1. Fungsi
perintah berkenaan dengan angota-anggota organisasi mempunyai hak dan kewajiban
membicarakan, menerima, menafsirkan dan bertindak atas suatu perintah. Tujuan
dari fungsi perintah adalah koordinasi diantara sejumlah anggota yang
bergantung dalam organisasi tersebut.
2. Fungsi
relasional berkenaan dengan komunikasi memperbolehkan anggota-anggota
menciptakan dan mempertahankan bisnis produktif hubungan personal dengan
anggota organisasi lain. Hubungan dalam pekerjaan mempengaruhi kenirja
pekerjaan (job performance) dalam berbagai cara. Misal:
kepuasan kerja; aliran komunikasi ke bawah maupun ke atas dalam hirarkhi
organisasional, dan tingkat pelaksanaan perintah. Pentingnya dalam hubungan
antarpersona yang baik lebih terasa dalam pekerjaan ketika anda merasa bahwa
banyak hubungan yang perlu dlakukan tidak anda pilih, tetapi diharuskan oleh
lingkungan organisasi, sehingga hubungan menjadi kurang stabil, lebih memacu
konflik, kurang ditaati, dsb.
3. Fungsi
manajemen ambigu berkenaan dengan pilihan dalam situasi organisasi sering
dibuat dalam keadaan yang sangat ambigu. Misal: motivasi berganda muncul karena
pilihan yang diambil akan mempengaruhi rekan kerja dan organisasi, demikian
juga diri sendiri; tujuan organisasi tidak jelas dan konteks yang mengharuskan
adanya pilihan tersebut adanya pilihan tersebut mungkin tidak jelas. Komunikasi
adalah alat untuk mengatasi dan mengurangi ketidakjelasan (ambiguity)
yang melekat dalam organisasi. Anggota berbicara satu dengan lainnya untuk
membangun lingkungan dan memahami situasi baru, yang membutuhkan perolehan
informasi bersama.
B. Pengaruh Komunikasi
terhadap Perilaku Organisasi.
Sebagai komunikator,
seorang pemimpin organisasi, manajer, atau administrator harus memilih salah
satu berbagai metode dan teknik komunikasi yang disesuaikan dengan situasi pada
waktu komunikasi dilancarkan. Sebagai komunikator, seorang manajer harus
menyesuaikan penyampaian pesannya kepada peranannya yang sedang dilakukannya.
Dalam hubungan ini, Henry Mintzberg seorang profesor manajemen pada McGill
University di Montreal-Kanada, menyatakan wewenang formal seorang manajer
menyebabkan timbulnya tiga peranan: peranan antarpersona; peranan informasi;
dan peranan memutuskan.
- Peranan antarpersona seorang manajer meliputi tiga
hal:
- Peranan tokoh. Kedudukan sebagai
kepala suatu unit organisasi, membuat seorang manajer melakuan tugas yang
bersifat keupacaraan. Karena ia merupakan seorang tokoh, maka selain
memimpim berbagai upacara di kantornya, ia juga diundang oleh pihak luar
untuk menghadiri berbagai upacara. Dalam peranan ini seorang manajer
berkesempatan untuk memberikan penerangan, penjelasan, imbauan, ajakan,
dll.
- Peranan pemimpin. Sebagai
pemimpin, seorang manajer bertanggung jawab atas lancar-tidaknya
pekerjaan yang dilakukan bawahannya. Beberapa kegiatan bersangkutan
langsung dengan kepemimpinannya pada semua tahap manajemen: penentuan
kebijaksanaan, perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengawasan,
dan penilaian. Ada juga kegiatan-kegiatan yang tidak langsung berkaitan
dengan kepemimpinannya, antara lain memotivasi para karyawan agar giat
bekerja. Untuk melaksanakan kepemimpinannya secara efektif, maka ia harus
mampu melaksanakan komunikasi secara efektif. Dalam konteks kepemimpinan,
seorang manajer berkomunikasi efektif bila ia mampu membuat para karyawan
melakukan kegiatan tertentu dengan kesadaran, kegairahan, dan
kegembiraan. Dengan suasana kerja seperti itu akan dapat diharapkan hasil
yang memuaskan.
- Peranan penghubung. Dalam peranan
sebaga penghubung, seorang manajer melakukan komunikasi dengan
orang-orang di luar jalur komando vertikal, baik secara formal maupun
secara tidak formal.
- Peranan informasi. Dalam organisasinya, seorang
manajer berfungsi sebagai pusat informasi. Ia mengembangkan pusat
informasi bagi kepentingan organisasinya. Peranan informasional meliputi
peranan-peranan sebagai berikut:
- Peranan monitor. Dalam melakukan
peranannya sebagai monitor, manajer memandang lingkungan sebagai sumber
informasi. Ia mengajukan berbagai ertanyaan kepada rekan-rekannya atau
kepada bawahannya, dan ia menerima informasi pula dari mereka tanpa
diminta berkat kontak pribadinya yang selalu dibinanya.
- Peranan penyebar. Dalam
peranannya sebagai penyebar ia menerima dan menghimpun informasi dari
luar yang penting artinya dan bermanfaat bagi organisasi, untuk kemuian
disebarkan kepada bawahannya
- Peranan juru bicara. Peranan ini
memiliki kesamaan dengan peranan penghubung, yakni dalam hal
mengkomunikasikan informasi kepada khalayak luar. Perbedaannya ialah
dalam hal caranya: jika dalam peranannya sebagai penghubung ia
menyampaikan informasi secara antarpribadi dan tidak selalu resmi, namun
dalam perananya sebagai juru bicara tidak selamanya secara kontak
pribadi, tetapi selalu resmi. Dalam peranannya sebagai juru bicara itu ia
juga harus mengkomunikasikan informasi kepada orang-orang yang
berpengaruh yang melakukan pengawasan terhadap organisasinya. Kepada
khalayak di luar organisasinya ia memberikan informasi dalam rangka
pengembangan organisasinya. Ia meyakinkan khalayak bahwa organisasi yang
dipimpinnya telah melakukan tanggung jawab sosial sebagaimana mestinya.
Ia meyakinkan pula para pejabat pemerintah bahwa organisasinya berjalan
sesuai dengan peratruran sebagaimana harusnya.
- Peranan memutuskan. Seorang manajer memegang peranan
yang sangat penting dalam sistem pengambilan keputusan dalam
organisasinya. Ada empat peranan yang dicakup pada peranan ini:
- Peranan wiraswasta. Seorang
manajer berusaha memajukan organisasinya dan mengadakan penyesuaian
terhadap perubahan kondisi lingkungannya. Ia senantiasa memandang ke
depan untuk mendapatkan gagasan baru. Jika sebuah gagasan muncul, maka ia
mengambil prakarsa untuk mengembangkan sebuah proyek yang iawasinya
sendiri atau didelegasikannya kepad bawahannya.
- Peranan pengendali gangguan.
Seorang manajer berusaha sebaik mungkin menanggapi setiap tekanan yang
menimpa organisasi, seperti buruh mogok, para pelanggan menghilang, dsb.
- Peranan penentu sumber. Seorang
manajer bertanggung jawab untuk memutuskan pekerjaan apa yang harus
dilakukan, siapa yang akan melaksanakan, dan bagaimana pembagian
pekerjaan dilangsungkan. Manajer juga mempunyai kewenangan mengenai
pengambilan keputusan penting sebelum implementasi dijalankan. Dengan
kewenangan itu, manajer dapat memastikan bahwa keputusan-keputusan yang
berkaitan semuanya berjalan melalui pemikran tunggal.
- Peranan perunding. Manajer
melakukan peranan perunding bukan saja mengenai hal-hal yang resmi dan
langsung berhubungan dengan organisasi, melainkan juga tentang hal-hal
yang tidak resmi dan tidak langsung berkaitan dengan kekaryaan. Bagi
manajer, perundingan merupakan gaya hidup karena hanya ialah yang
mempunyai wewenang untuk menanggapi sumber-sumber organisasional pada
waktu yang tepat, dan hanya ialah yang merupakan pusat jaringan informasi
yang sangat diperlukan bagi perundingan yang penting.
C. Dimensi-Dimensi
Komunikasi dalam Kehidupan Organisasi
- Komunikasi internal.
Komunikasi
internal organisasi adalah proses penyampaian pesan antara anggota-anggota
organisasi yang terjadi untuk kepentingan organisasi, seperti komunikasi antara
pimpinan dengan bawahan, antara sesama bawahan, dsb. Proses komunikasi internal
ini bisa berujud komunikasi antarpribadi ataupun komunikasi kelompok. Juga
komunikasi bisa merupakan proses komunikasi primer maupun sekunder (menggunakan
media nirmassa). Komunikasi internal ini lazim dibedakan menjadi dua, yaitu:
- Komunikasi vertikal, yaitu
komunikasi dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Komunikasi dari
pimpinan kepada bawahan dan dari bawahan kepada pimpinan. Dalam
komunikasi vertikal, pimpinan memberikan instruksi-instruksi,
petunjuk-petunjuk, informasi-informasi, dll kepada bawahannya. Sedangkan
bawahan memberikan laporan-laporan, saran-saran, pengaduan-pengaduan,
dsb. kepada pimpinan.
- Komunikasi horizontal atau
lateral, yaitu komunikasi antara sesama seperti dari karyawan kepada
karyawan, manajer kepada manajer. Pesan dalam komunikasi ini bisa
mengalir di bagian yang sama di dalam organisasi atau mengalir
antarbagian. Komunikasi lateral ini memperlancar pertukaran pengetahuan,
pengalaman, metode, dan masalah. Hal ini membantu organisasi untuk
menghindari beberapa masalah dan memecahkan yang lainnya, serta membangun
semangat kerja dan kepuasan kerja.
- Komunikasi eksternal.
Komunikasi
eksternal organisasi adalah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan
khalayak di luar organisasi. Pada organisasi besar, komunikasi ini lebih banyak
dilakukan oleh kepala hubungan masyarakat dari pada pimpinan sendiri. Yang
dilakukan sendiri oleh pimpinan hanyalah terbatas pada hal-hal yang ianggap
sangat penting saja. Komunikasi eksternal terdiri dari jalur secara timbal
balik:
a. Komunikasi
dari organisasi kepada khalayak. Komunikasi ini dilaksanakan umumnya bersifat
informatif, yang dilakukan sedemikian rupa sehingga khalayak merasa memiliki
keterlibatan, setidaknya ada hubungan batin. Komunikasi ini dapat melalui
berbagai bentuk, seperti: majalah organisasi; press release;
artikel surat kabar atau majalah; pidato radio; film okumenter; brosur; leaflet;
poster; konferensi pers.
b. Komunikasi
dari khalayak kepada organisasi. Komunikasi dari khalayak kepada organisasi
merupakan umpan balik sebagai efek dari kegiatan dan komunikasi yang dilakukan
oleh organisasi.
KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA
Komunikasi
antar budaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang- orang yang
memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau
sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini). Kebudayaan adalah
cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta
berlangsung dari generasi ke generasi (Tubbs, Moss:1996).
Komunikasi antar budaya memiliki akarnya dalam bahasa (khususnya sosiolinguistik), sosiologi, antropologi budaya, dan
psikologi. Dari keempat disiplin ilmu tersebut, psikologi menjadi
disiplin acuan utama komunikasi lintas budaya, khususnya psikologi lintas
budaya. Pertumbuhan komunikasi antar budaya dalam dunia bisnis memiliki tempat yang utama, terutama perusahaan –
perusahaan yang melakukan ekspansi pasar ke luar negaranya notabene
negara – negara yang ditujunya memiliki aneka ragam budaya.
Selain
itu, makin banyak orang yang bepergian ke luar negeri dengan beragam
kepentingan mulai dari melakukan perjalanan bisnis, liburan, mengikuti
pendidikan lanjutan, baik yang sifatnya sementara maupun dengan tujuan
untuk menetap selamanya. Satelit komunikasi telah membawa dunia
menjadi semakin dekat, kita dapat menyaksikan beragam peristiwa yang
terjadi dalam belahan dunia,baik melalui layar televisi, surat kabar, majalah,
dan media on line. Melalui teknologi komunikasi dan informasi, jarak
geografis bukan halangan lagi kita untuk melihat ragam peristiwa yang
terjadi di belahan dunia. Berbicara mengenai komunikasi antarbudaya, maka
kita harus melihat dulu bebrapa defenisi yang diikutif oleh Ilya
Sunarwinadi ( 1993: 7-8 ) berdasarkan pendapat para ahli antara lain
:
1.
Sitaram ( 1970 ) : Seni untuk memahami dan saling pengertian antara
khalayak yang berbeda kebudayaan (intercultural communication…the art of
understanding and being understood by audience of mother culture ).
2.
Samovar dan Porter ( 1972 ) : Komunikasi antarbudaya terjadi
manakala bagaian yang terlibat dalam kegiatan komunikasi tersebut
membawa serta latar belakang budaya pengalaman yang berbeda yang
mencerminkan nilai yang dianut oleh kelompoknya berupa pengalaman,
pengetahuan, dan nilai (intracultural communication obtains whenever the
parties to acommunications act to bring with them different experiential
backgrounds that reflect along- standing deposit of group experience,
knowledge, values).
3.
Rich ( 1974 ) : Komunikasi antarbudaya terjadi ketika orang-orang yang
berbeda kebudayaan (communication is intercultural when accuring between
peoples of different cultures).
4.
Rich ( 1974 ) : Komunikasi antarbudaya terjadi ketika orang-orang yang
berbeda kebudayaan (communication is intercultural when accuring between
peoples of different cultures).
Seluruh
defenisi diatas dengan jelas menerangkan bahwa ada penekanan pada
perbedaan kebudayaan sebagai faktor yang menetukan dalam berlangsungnya
proses komunikasi antarbudaya. Komunikasi antarbudaya memang mengakui dan
mengurusi permasalahan mengenai persamaan dan perbedaan dalam
karakteristik kebudayaan antar pelaku–pelaku komunikasi, tetapi titik
perhatian utamanya tetep terhadap proses komunikasi individu-individu
atau kelompok-kelompok yang berbeda kebudayaan dan mencoba untuk
melakukan interaksi. Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan
timbal balik, seperti dua sisi mata uang. Budaya menjadi bagian dari
perilaku komunikasi, dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan,
memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya, seperti yang dikatakan
Edward T. Hall, bahwa “komunikasi adalah budaya” dan budaya
adalah komunikasi”. Pada suatu sisi, komunikasi merupakan suatu mekanisme
untuk mensosialisasikan norma-norma budaya masyarakat, baik secara
horizontal, dari suatu masyarakat kepada masyarakat lainnya, ataupun
secara vertikal dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Pada sisi
lain budaya menetapkan norma-norma (komunikasi) yang dianggap sesuai
untuk kelompok tertentu.
2.
PRINSIP- PRINSIP
KOMUNIKASIANTAR BUDAYA
1. Relativitas Bahasa
Gagasan umum bahwa bahasa
mempengaruhi pemikiran dan perilaku paling banyak disuarakan oleh para
antropologis linguistik. Pada akhir tahun 1920-an dan disepanjang tahun
1930-an, dirumuskan bahwa karakteristik bahasa mempengaruhi proses kognitif
kita. Dan karena bahasa-bahasa di dunia sangat berbeda-beda dalam hal
karakteristik semantik dan strukturnya, tampaknya masuk akal untuk mengatakan
bahwa orang yang menggunakan bahasa yang berbeda juga akan berbeda dalam cara
mereka memandang dan berpikir tentang dunia.
2. Bahasa sebagai cermin budaya
Bahasa mencerminkan
budaya. Makin besar perbedaan budaya, makin perbedaan komunikasi baik dalam
bahasa maupun dalam isyarat-isyarat nonverbal. Makin besar perbedaan antara
budaya (dan, karenanya, makin besar perbedaan komunikasi), makin sulit
komunikasi dilakukan. Kesulitan ini dapat mengakibatkan, misalnya, lebih banyak
kesalahankomunikasi, lebih banyak kesalahan kalimat, lebih besar kemungkinan
salah paham, makin banyak salah persepsi, dan makin banyak potong kompas (bypassing).
3. Mengurangi Ketidakpastian
Makin besar perbedaan
antarbudaya, makin besarlah ketidak-pastian dam ambiguitas dalam komunikasi.
Banyak dari komunikasi kita berusaha mengurangi ketidak-pastian ini sehingga
kita dapat lebih baik menguraikan, memprediksi, dan menjelaskan perilaku orang
lain. Karena letidak-pasrtian dan ambiguitas yang lebih besar ini, diperlukan
lebih banyak waktu dan upaya untuk mengurangi ketidak-pastian dan untuk
berkomunikasi secara lebih bermakna.
4. kesadaran diri dan perbedaan antar budaya
Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besar kesadaran
diri (mindfulness) para partisipan selama komunikasi. Ini mempunyai
konsekuensi positif dan negatif. Positifnya, kesadaran diri ini barangkali
membuat kita lebih waspada. ini mencegah kita mengatakan hal-hal yang mungkin
terasa tidak peka atau tidak patut. Negatifnya, ini membuat kita terlalu
berhati-hati, tidak spontan, dan kurang percaya diri.
5. Interaksi awal dan
perbedaan antar budaya
Perbedaan antarbudaya
terutama penting dalam interaksi awal dan secara berangsur berkurang tingkat
kepentingannya ketika hubungan menjadi lebih akrab. Walaupun selalu terdapat
kemungkinan salah persepsi dansalah menilai orang lain, kemungkinan ini khususnya
besar dalam situasi komunikasi antarbudaya.
6. Memaksimalkan hasil interaksi
Dalam komunikasi
antarbudaya terdapat tindakan-tindakan yang berusaha memaksimalkan hasil
interaksi. Tiga konsekuensi mengisyaratkan implikasi yang penting bagi
komunikasi antarbudaya. Pertama, orang akan berintraksi dengan orang lain yang
mereka perkirakan akan memberikan hasil positif. Kedua, bila mendapatkan hasil
yang positif, maka pelaku komunikasi terus melibatkan diri dan meningkatkan
komunikasi. Bila memperoleh hasil negatif, maka pelaku mulai menarik diri dan
mengurangi komunikasi. Ketiga, pelaku membuat prediksi tentang perilaku mana
yang akan menghasilkan hasil positif. Pelaku akan mencoba memprediksi hasil
dari, misalnya, pilihan topik, posisi yang diambil, perilaku nonverbal yang
ditunjukkan, dan sebagainya. Pelaku komunikasi kemudian melakukan apa yang
menurutnya akan memberikan hasil positif dan berusaha tidak melakkan apa yang
menurutnya akan memberikan hasil negatif.
3.
SALURAN KOMUNIKASI ANTAR
BUDAYA
1. Antarpribadi/ interpersonal/
person-person yaitu orang dengan orang secara langsung
2. Media massa yaitu melalui
radio, surat kabar, TV, Film, Majalah
Bersama-sama
dengan dua dimensi sebelumnya, saluran komunikasi juga mempengaruhi
proses dan hasil keseluruhan dari KAB. Misalnya : orang Indonesia
menonton melalui TV keadaan kehidupan di Afrika akan memilih pengalaman
yang berbeda dengan keadaan apabila ia sendiri berada disana dan melihat
dengan mata kepala sendiri. Umumnya pengalaman komunikasi antar
pribadi dianggap memberikan dampak yang lebih mendalam. Komunikasi
melalui media kurang dalam hal feedback langsung antar partisipan
dan bersifat satu arah. Sebaliknya, saluran antarpribadi tidak dapat
menyaingi kekuatan saluran media dalam mencapai jumlah besar manusia
sekaligus melalui batas-batas kebudayaan. Tetapi dalam keduanya,
proses-proses komunikasi bersifat antarbudaya bila partisipan-
partisipannya berbeda latar belakang budayanya. Ketiga dimensi diatas dapat
digunakan secara terpisah ataupun bersamaan, dalam mengkalsifikasikan
fenomena KAB khusus. Misalnya : kita dapat menggambarkan komunikasi
antara Presiden Indonesia dengan Dubes baru dari Nigeria sebagai
komunikasi internasaional, antarpribadi dalam konteks politik, komunikasi
antara pengecara AS dari keturunan Cina dengan kliennya orang AS
keturunan Puerto Rico sebagai komunikasi antar etnik, antarpribadi dan
massa dalam konteks akulturasi migran. Maka apapun tingkat keanggotaan
kelompok konteks sosial dan saluran komunikasi, komunikasi dianggap antar
budaya apabila para komunikator yang menjalin kontak dan interaksi
mempunyai latar belakang pengalaman berbeda ( Lusiana, 2002:5).
D. FUNGSI-FUNGSI KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA
1. Fungsi Pribadi
Fungsi
pribadi komunikasi antar budaya adalah fungsi-fungsi komunikasi antar
budaya yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang bersumber dari
seorang individu.
• Menyatakan Identitas
Sosial
Dalam proses komunikasi
antarbudaya terdapat beberapa perilaku komunikasi individu yang digunakan
untuk menyatakan identitas sosial. Perilaku itu dinyatakan
melalui tindakan berbahasa baik secara verbal dan
nonverbal. Dari perilaku berbahasa itulah dapat diketahui identitas diri
maupun sosial, misalnya dapat diketahui asal-usul suku
bangsa, agama, maupun tingkat pendidikan seseorang.
• Menyatakan intergrasi
social
Inti
konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan
antarpribadi, antarkelompok namun tetap mengakui
perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur. Perlu dipahami bahwa
salah satu tujuan komunikasi adalah memberikan makna yang sama atas pesan
yang dibagi antara komunikator dan komunikan. Dalam kasus komunikasi
antarbudaya yang melibatkan perbedaan budaya antar komunikator dengan
komunikan, maka integrasi sosial merupakan tujuan utama komunikasi.
• Menambah pengetahuan
Seringkali komunikasi
antarbudaya menambah pengetahuan bersama, saling mempelajari kebudayaan
masing-masing.
2. Fungsi Sosial
• Pengawasan
Fungsi sosial yang pertama adalah
pengawasan. Praktek komunikasi antarbudaya di antara komunikator dan
komunikan yang berbada kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam
setiap proses komunikasi antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk
menginformasikan "perkembangan" tentang lingkungan.
Fungsi ini lebih banyak dilakukan oleh media massa yang
menyebarlusakan secara rutin perkembangan peristiwa yang terjadi
disekitar kita meskipun peristiwa itu terjadi dalam sebuah konteks
kebudayaan yang berbeda.
• Menjembatani
Dalam proses komunikasi
antarbudaya, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang
berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara
mereka. Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang
mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas
sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama. Fungsi ini dijalankan
pula oleh berbagai
konteks komunikasi termasuk komunikasi massa.
• Sosialisasi Nilai
Fungsi sosialisasi
merupakan fungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai
kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain.
• Menghibur
Fungsi menghibur juga sering
tampil dalam proses komunikasi antarbudaya. Misalnya menonton
tarian dari kebudayaan lain. Hiburan tersebut termasuk dalam
kategori hiburan antarbudaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar